Ahli onkologi peraih Nobel Devra Davis menjelaskan bahaya telepon seluler

Ahli onkologi peraih Nobel dan Presiden Environmental Health Trust, Devra Davis, datang ke Turki untuk seminar bertajuk "Telepon Seluler dan Dampaknya terhadap Kesehatan Kita" yang diselenggarakan oleh Kadir Has Üniversitesi.

Davis, yang menimbulkan gema di seluruh dunia dengan bukunya Disconnect (Putuskan Koneksi) tentang efek berbahaya telepon seluler — juga diterbitkan dalam bahasa Turki — menjelaskan efek berbahaya telepon seluler yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, serta solusi yang mungkin.

Apa bahaya telepon seluler?

"Telepon seluler meningkatkan risiko kanker. Memegangnya di telinga atau dekat telinga selama lebih dari 50 menit menyebabkan perubahan pada otak orang yang sehat. Bahkan saat kita tidak berbicara di telepon, ada kerusakan dari radiasi gelombang mikro antara stasiun pangkalan dan perangkat. Tubuh dan otak menyerap setengah dari radiasi gelombang mikro yang dipancarkan telepon seluler setiap saat. Saat kita berbicara di telepon, beberapa sel otak kita mulai mati akibat radiasi gelombang mikro. Pria yang berbicara di telepon seluler selama dua jam sehari juga mengalami penurunan jumlah sperma sebesar 30 persen."

Apakah sudah dilakukan eksperimen tentang efek ini?

"Sebuah penelitian dilakukan pada tikus di Atina Üniversitesi mengenai efek berbahaya telepon seluler. Tikus laboratorium yang setiap kali bisa menemukan keju yang diletakkan di pintu keluar labirin terpapar radiasi telepon seluler selama beberapa waktu dan kemudian mulai gagal menemukan jalannya."

Apa dampaknya pada anak-anak?

"Anak-anak menyerap lebih banyak radiasi gelombang mikro dibandingkan orang dewasa. Ini karena tengkorak mereka lebih tipis dan otak mereka terkena dampak negatif dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan orang dewasa. Di kalangan anak muda, kanker otak terjadi 4 hingga 5 kali lebih sering dalam waktu kurang dari 10 tahun. Paparan radiasi gelombang mikro selama masa kanak-kanak mempercepat proses ini."

Sumber: VATAN